Perkembangannya sih pesat, pesat banget.
Jauh dari yang saya bayangin sebenarnya ya.
Kemajuan pesatnya parah sekali parah.
Yang saya ingat dulu lagi zamannya Pak Wali kota yang pertama,
Pak Badrul Kamal itu Depok tuh sebenarnya tidak bisa dibangun apartemen tinggi.
Karena Depok itu kan adanya di dataran tinggi sebenarnya.
Kebijakan dari Pemkot Depok itu ya kemungkinan untuk sarana.
Ya itu sarana tata kota Depok itu sendiri dan sekitarnya.
Kemacetan sendiri untuk saat ini masih bisa kita maklumi ya,
karena memang banyak pembangunan-pembangunan yang lagi dibuat.
Atas nama pembangunan, bukan berarti pasrah kan.
Selamat datang di Depok.
Selain Tangerang, Bekasi, dan Bogor,
Depok adalah salah satu dari empat kota penyangga DKI Jakarta.
Kawasan inilah yang kerap disebut Jabodetabek.
Menurut survei rumah123.com. Depok yang terletak di selatan Jakarta,
jadi pilihan kedua setelah Tangerang untuk tinggal di tepian Jakarta.
Badan Pusat Statistik pada Juni 2019 mencatat,
jumlah penduduk Depok sekitar 2 juta 250 ribu orang.
Dengan luas 202 kilometer persegi,
Depok jadi kota terpadat ke-19 di Indonesia.
Melampaui kota bukan penyangga seperti Makassar, Palembang, dan Denpasar.
Kepadatan penduduk bukan masalah utamanya.
Tapi macet.
Berbagai solusi ditawarkan, mulai dari penambahan ruas jalan,
separator,
Hingga rencana penerapan joyful traffic,
dengan memutar lagu untuk menghilangkan stres pengendara.
Joyful itu kan artinya sesuatu yang membuat orang nyaman.
Nah ini kan membuat seorang nyaman harus uji coba.
Yang kita lakukan adalah pembahasan, analisis yang sifatnya normatif.
Belum diuji coba, untuk teknisnya karena kita akan launching di Agustus.
Pertengahan atau di akhir Agustus kita akan launching ini.
Jadi itu tadi saya nggak tahu kok jadi viralnya begitu.
Sejak awal, mesin pembangunan Depok memang terus bekerja.
Ketika saudagar Belanda, mantan VOC, Cornelis Chastelein,
menyiapkan Depok untuk menjadi Kota Administratif sendiri.
Setelah kemerdekaan Indonesia,
Depok sempat jadi Kecamatan dalam wilayah Parung Kabupaten Bogor.