kura kura dan kelinci
Hari itu cerah sekali, tetapi binatang-binatang di dalam hutan tidak memperhatikan cuaca yang indah itu. Mereka sedang mempertengkarkan
siapa yang dapat berlari paling cepat. Seperti biasa, Kelinci lalu membual. "Sampai saat ini, akulah pelari yang paling cepat ! Aku akan
berlomba dengan kalian. Hadiahnya adalah kancing emas ini. " Tupai, maukah kamu berlomba denganku ?" "Sudah pasti tidak, Kelinci," kata
Tupai dengan geli. " Kaki-kakimu terlalu panjang untukku !" "Serigala, apakah kau ingin berlomba denganku ?" Serigala menggelengkan
kepalanya. "Jadi tidak ada yang berani berlomba denganku ? Cerpelai ? Landak ? .....Tak ada satupun yang mau ?" Untuk sesaat semuanya diam,
kemudian sebuah suara yang lembut berkata, "Kalau kau mau, aku akan mencobanya !"
Kelinci melihat berkeliling, mencari-cari asal suara itu lalu ia melihat Kura-kura merayap perlahan-lahan menyeberangi lapangan di tepi
hutan. Kelinci merasa geli tapi ia mencoba tetap serius ketika menjawab Kura-kura. "Ah, Kura-kura temanku yang baik ! Akhirnya kau
bergabung juga dengan kami !" "Aku tak punya alasan untuk terburu-buru," jawab Kura-kura. "Lagipula, hari ini indah sekali." Kelinci
menunjukkan kepadanya kancing yang berkilauan ditimpa sinar matahari itu. "Kelihatannya, kaulah satu-satunya penantangku, Kura-kura.
Apakah kau mau berlomba denganku ke jembatan batu di seberang hutan sana ? Kau harus mengakui bahwa hadiahnya bagus sekali !"
"Hadiahnya sangat bagus, Kelinci; benar-benar sangat bagus. Dan bagiku berlomba ke jembatan di seberang hutan itu cukup layak. Ya, Kelinci,
aku akan berlomba denganmu," Kura-kura menjawab perlahan-lahan dan hati-hati. Kelinci tertawa terbahak-bahak. "Si Lambat, kamu tidak
serius bukan ! Kamu tak mungkin menang jika berlomba denganku ! Kamu pasti bergurau !" Jarak dari sini sampai ke jembatan itu 400
meter loh, apakah kamu sanggup? Binatang-binatang lain ikut tertawa. Kura-kura menggelengkan kepalanya pelan-pelan. "Aku tidak bergurau,
sungguh!" Kura-kura meyakinkan mereka semua. "Sekarang, siapa yang akan memberi aba-aba untuk berangkat ?" Kelinci masih tertawa
ketika mereka berdua berdiri sejajar dan menunggu aba-aba dari Burung Hantu. "Tu-whit tu-whoo!"
"Baru saja suara "tu-whoo" keluar dari paruh Burang Hantu ketika Kelinci melesat seperti angin melewati pohon-pohon. Kura-kura masih
merayap ke tepi hutan, tetapi kelinci sudah tidak kelihatan lagi. "Ayo, Kura-kura !" binatang-binatang lain bersorak memberi semangat sambil
tertawa. "Dapatkah kamu berjalan lebih cepat lagi?" "Aku heran mengapa kau mau berlomba, Kura-kura!" kata Cerpelai. "Semua binatang tahu
bahwa Kelincilah yang akan menang!" Kura-kura tidak senang mendengar olok-olokan itu, tetapi ia tidak mau memperlihatkan bahwa
perasaannya terluka. Bahkan ia terus merayap, sambil terus menerus berkata kepada dirinya sendiri : "Lambat tapi mantap akan memenangkan
perlombaan, lambat tapi mantap...."
Dengan gesit Kelinci berlari melewati pohon-pohon, melompati tunggul-tunggul kayu, menyelinap di antara tanaman-tanaman. Sesudah
beberapa saat ia berhenti. Padahal masih setengah perjalanan lagi baru akan mencapai finish. Tak ada suara apapun yang mengikutinya. Ia
melihat berkeliling. Tak ada tanda-tanda dari si Kura-kura. Kelinci tertawa sendiri. Ia telah berlari jauh melampaui Kura-kura. Dengan malas
ia berjalan beberapa langkah lagi kemudian berhenti. Sekarang ia sudah berada jauh di ujung hutan, dan jembatan batu tua yang menjadi
sasaran lomba sudah terlihat, kira –kira 200 meter lagi, tak jauh dari situ. Kelinci tersebut hanya memerlukan waktu 10 menit untuk
mencapai semenjak ia start sampai ia berhenti.
Tapi sayang, di situ tak ada seekor binatangpun yang menyaksikan Kelinci meraih kemenangannya. Kelinci, yang suka berlagak, tidak puas kalau
tak ada satupun yang mengelu-elukan kemenangannya. Maka diputuskannya untuk menunggu sebentar sampai ada binatang lain yang hadir di
situ. Sambil menunggu iapun berbaring di bawah pohon. Pikirnya, jika nanti beberapa binatang sudah berkumpul ia akan melanjutkan lari ke
jembatana itu dan meraih kemenangannya. Tapi hari sangat panas, Kelinci harus memejamkan matanya untuk menghindari cahaya matahari
yang menyilaukan. Dan tempat itu sangat nyaman untuk beristirahat.............Kelinci pun tertidur.
Kelincipun tertidur selama 30 menit. Matahari sudah tidak terlalu panas lagi. Cahayanya mulai meredup di balik pohon-pohon. Kelinci dapat
merasakan angin senja yang dingin mulai bertiup. Ketika ia bangun, didengarnya suara binatang-binatang lain, mendengus dan mencicit dengan
gembira. "Astaga ! Mereka sudah ada di sini untuk menyaksikan kemenanganku !" pikirnya. "Kura-kura yang malang. Ia pasti masih tertinggal jauh di belakang!" Kelinci meregangkan tubuhnya, kemudian siap berlari lagi. Kelinci tidak tahu, bahwa selama ia tidur pulas, dengan susah
payah tapi mantap. Kura-kura terus berjalan menyeberangi hutan. Dan Kelinci telah tertidur lama sekali, cukup lama, sehingga Kura-kura
dapat dengan perlahan-lahan tapi pasti melampauinya. Kelinci tidak menyadari bahwa binatang-binatang lain sedang mengelu-elukan Kura-kura
dan bukan dia. Kelinci tidak tahu bahwa sekarang Kura-kura tinggal beberapa langkah lagi saja dari jembatan batu tua itu.....
Tiba-tiba, Kelinci melihat Kura-kura. Dengan terkejut disadarinya apa yang telah terjadi. Ia tak percaya telah berbuat bodoh. Tapi hal itu
adalah kenyataan. Sekarang, meskipun ia berlari sekencang-kencangnya, tak mungkin lagi baginya melampaui Kura-kura! Semua binatang telah
hadir di situ untuk menyaksikan Kura-kura memenangkan perlombaan !
Dengan susah payah, Kura-kura yang lembut sambil tersenyum berjalan dua langkah terakhir ke jembatan batu. Ia telah menang. Ia sangat,
sangat lelah dan kepanasan, tetapi sedikitpun tidak dipedulikannya. Ia telah menaklukkan Kelinci yang suka membual itu! Binatang-binatang
yang lain bersorak-sorak. "Hidup Kura-kura! Bagus! Kamulah pemenangnya !" Suara-suara itu terdengar bagaikan musik di telinga Kura-kura
yang sedang terengah-engah kepayahan.
Dengan tidak menghiraukan kelelahannya, Kura-kura melangkah lagi ke atas jembatan lalu berdiri di situ, berseri-seri dan bangga dan dengan
malu-malu melambai lambai kepada kerumunan binatang-binatang itu. Inilah salah satu yang paling berbahagia dalam hidupnya.
Kelinci yang malang dan bodoh ! Alangkah malunya ia mengingat bahwa setiap binatang memperhatikannya sedang tidur ketika dilalui Kura-
kura! Alangkah malunya karena ia telah dikalahkan oleh Kura-kura! Alangkah menyesalnya ia telah membual dan besar kepala ! "Di sinilah
engkau, Kura-kura. Inilah kancing emas hadiahnya," katanya pelan dengan telinga terkulai. " San selamat !" Binatang-binatang lain tertawa
terbahak-bahak. "Tidak apa-apa, Kelinci," kata Kura-kura dengan ramah, "Simpanlah lagi kancing itu. Aku senang sekali hari ini. Tapi ingatlah
selalu; lambat tapi mantap akan memenangkan perlombaan, lambat tapi mantap.............."