Dahulu kala disebuah bukit yang jauh dari pemukiman.
Hiduplah seorang ibu petani
bersama anak perempuanya.
Setiap hari sang ibu harus bekerja keras menanam sayuran
dan menjualnya ke pasar demi menyambung hidup.
Dikarenakan sang suami telah tiada.
Anak perempuannya itu tumbuh menjadi
gadis dengan paras sangat cantik.
Rambutnya panjang begitu lembut,
lebat, dan terurai dengan indah.
Dipercantik dengan keberadaan poni
yang tersisir rapi menyusuri keningnya.
Namun sayangnya dibalik kecantikan itu,
sifat dan perilakunya jauh dari kata baik.
Dia sangat pemalas dan juga manja.
Setiap hari hanya berdandan di depan cermin.
Tak pernah sekalipun dia mau membantu ibunya bekerja.
Selain itu dia suka membentak
dan mengambil upah dari kerja keras ibunya
dengan alasan agar ia selalu terlihat cantik.
Hingga suatu hari,
sisir yang biasa dia gunakan patah.
Sang anak pun kesal dan berteriak memanggil ibunya.
Dia meminta untuk dibelikan sisir
sekaligus perhiasan baru.
Sang ibu memberitahu anaknya,
bahwa dirinya hanya sanggup membelikan sisir,
tidak dengan perhiasan baru.
Mendengar jawaban itu sang anak sangat marah
dan mengancam pergi dari rumah.
Malam itu sang ibu sedih meratapi peringai anaknya.
Akan tetapi demi kebahagiaan sang anak,
dia rela mengambil uang tabungan yang selama ini
dikumpulkan sedikit demi sedikit
dari sisa upah yang kerap diambil anaknya.
Keesokan hari sang ibu mengajaknya pergi ke pasar
untuk menjual sayur
serta membelikan barang yang diinginkan.
Sang anak pun merasa senang karena keinginanya dituruti.
To start learning, sign up for free.